3 Alasan Ibu Perlu Mengganti Kebiasaan Makan Nasi saat Hamil

doktersehat-nasi-goreng-sehat
Photo Credit: Flickr.com/cipher

DokterSehat.Com– Sudah menjadi rahasia umum jika belum makan nasi maka sama saja dianggap seperti belum makan utama, ya.

Hal ini tentu wajar mengingat nasi adalah salah satu bahan makanan pokok utama yang dihasilkan di Indonesia. Akan tetapi, bolehkah hal ini terus menerus diterapkan pada ibu hamil?

Anda tentu sudah sering mendengar jika beberapa ibu hamil, utamanya pada kehamilan trimester akhir, kerap dianjurkan untuk mengurangi nasi, bukan? Hal ini tentu bukan tanpa alasan, ya.

Nasi yang lazimnya sudah menjadi bagian dari makanan utama sehari-hari, ternyata dapat memberikan dampak yang tidak bisa dianggap sepele untuk ibu hamil, lho.

doktersehat-nasi-putih

Kandungan gizi pada nasi dan kebiasaan makan nasi yang umumnya lebih dari dua kali sehari membuat asupan beberapa zat yang terkandung di dalamnya menjadi kurang terkontrol daam tubuh.

Kondisi ini jika diteruskan bukan tidak mungkin menyebabkan ibu mengalami berbagai gangguan misalnya kadar gula darah yang meningkat atau tekanan darah tinggi.

Selain itu, risiko ibu mengalami peningkatan berat badan yang tidak seimbang gizinya juga akan semakin besar.

Beberapa hal lain yang menyebabkan alasan ibu hamil harus mengganti nasi adalah:

1. Kandungan indeks glikemik nasi yang tinggi

Salah satu kandungan pada nasi yang cukup tinggi adalah kadar indeks glikemik yang tergolong tinggi yaitu diatas 70. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa nasi kerap harus dibatasi oleh ibu hamil.

Photo Credit : freepik.com

Kadar indeks glikemik yang tinggi akan mendorong kadar gula darah dalam tubuh meningkat.

Kondisi inilah yang kemudian meningkatkan risiko ibu hamil mengalami diabetes saat kehamilan, pola makan dan minum yang tidak terkontrol, peningkatan berat badan hingga berpengaruh pada kondisi tumbuh kembang dan fisik janin saat lahir.

Nasi juga menjadi harus dikontrol asupannya menjelang persalinan, mengingat risiko yang tgangguan persalinan yang bisa terjadi jika kadar nilai darah ibu saat jelang kelahiran tidak terkontrol.

Ada cukup banyak jenis bahan makanan yang kandugan indeks glikemiknya lebih rendah sehingga lebih dipertimbangkan untuk ibu hamil, diantaranya adalah nasi merah dan beberapa jenis umbi.

2. Pertimbangan kandungan serat pada nasi

Makanan berkarbohidrat adalah makanan yang menyumbang asupan energi terbesar dalam tubuh ibu, yaitu diatas 60% kebutuhan energi harian.

Jika makanan berkarbohidrat yang dipilih adalah yang kandungan seratnya rendah, maka tentu asupan serat dalam tubuh ibu juga menjadi rendah.

nasi-putih-doktersehat
Photo Credit: flickr/ Quinn Dombrowski

Dibandingkan roti gandum, tepung gandum utuh atau nasi merah, kandungan serat yang ada nasi cenderung lebih rendah. Hal ini yang juga meningkatkan risiko berbagai gangguan pada kadar darah dalam tubuh ibu hingga gangguan pada pencernaan.

Ibu hamil sebaiknya mengonsumsi makanan berkarboidrat yang kandunga seratnya tinggi.

Hal ini akan mendukung pemenuhan kebutuhan serat harian harian, kadar kolesterol dalam darah dan gula darah dapat terkontrol, serta pencernaan lebih lancar yang membuat ibu bebas dari masalah sembelit saat hamil.

3. Asupan gizi ibu dapat lebih beragam dari variasi makanan berkarbohidrat lain

Selain kedua keuntungan di atas,mengganti nasi dengan makanan karbohidrat lain seperti kentang, mi basah, pasta, roti, jagung, atau sagu dapat memberikan asupan gizi yang tentu lebih beragam, ya.

Hal ini akan sangat baik untuk mendukung pemenuhan kebutuhan berbagai jenis gizi tubuh ibu hamil yang meningkat.

Asupan vitamin, mineral dan antioksidan dari bahan makanan segar lainnya akan sangat diperlukan oleh ibu hamil.

doktersehat-beda-mie-pasta
Photo Credit: Flickr.com/Marco Verch

Agar manfaat ini bisa dirasakan dengan maksimal, maka ibu hamil dianjurkan untuk memvariasikan jenis makanan pokoknya paling tidak 2-3 jenis dalam satu minggu.