Hidup sehat alami gaya Dr. Tan Tjiauw Liat

Share Artikel ini melalui: Twitter Facebook MySpace Digg Digg friendster wordpress technorati

dokterSehat.com – KITA boleh iri melihat sosok Dr Tan Tjiauw Liat. Bukan hanya fisiknya yang segar, sehat, dan lincah (tinggi 167 cm/berat 59 kg) tapi daya ingatnya juga luar biasa. Selama wawan­cara dua setengah jam, ia membuka lebih dari 10 buku, di antaranya *How To Use Glutamine **to Strengthen the Immune System,Improve Muscle Mass & Heal the Digestive Tract, The Anti-aging Zone, *dan *Water Cures: Drugs Kill *untuk menunjukkan latar belakang pendapat­nya. Buku-buku tersebut hanya sebagian kecil dari koleksi buku yang berjajar rapi di dalam lemari bukunya.

Saya benar-benar kagum pada dokter berusia 76 tahun itu. la bukan hanya ingat warna *cover *buku, judul, atau tempat buku itu disimpan, melainkan hafal di luar kepala isi buku-buku itu. Mulai dari alinea, kalimat, yang sudah diberi dua garis dengan tinta merah, sampai kata per kata!. Luar biasa…. Buku-buku, jurnal-jurnal kesehatan, *news­letter, *baginya merupakan harta yang tak terni­lai. Ketika banjir melanda Jakarta tahun 2002, rumahnya di
bilangan Pluit tak luput dari ben­cana. Anak-anaknya khusus menyewa truk dan jukung untuk mengevakuasinya, namun Dr Tan tetap bertahan hanya mengungsi ke ru­mah tetangganya. la enggan beranjak dari rumahnya. “Lantaran buku-buku saya masih di dalam,” katanya. la hanya minta dibawakan sayuran mentah sebagai menu makannya.

Senjatanya: tomat dan mentimun

Pukul 15.00 saat mewawancarai Dr Tan di tempat praktiknya di Pluit, tampak beberapa pasien yang mengalami *stroke *mulai berda­tangan. Beberapa pasien harus dipapah atau didorong di kursi roda, untuk sampai ke ruang praktik.
Pria berkacamata yang sore itu menge­nakan kemeja putih lengan pendek itu lang­sung berdiri dan membuka pintu kamar prak­tiknya. Dengan suara yang nyaring yang meru­pakan ciri khasnya, ia menyapa para pasien dan memperkenalkan mereka kepada saya.

“Ini pasien saya yang sudah berumur 100 tahun. Nah, bapak yang itu tadinya *troke berat, sekarang sudah bisa jalan. Pasien yang duduk di kursi roda itu otaknya sudah dibedah di rumah sakit. Waktu datang tidak berdaya sama sekali, tetapi setelah saya anjurkan makan tomat dan mentimun, kondisinya jauh lebih baik,” ujarnya sambil menunjuk ke arah pasien­-pasien yang dimaksud. Mereka tampak ceria, dan mengatakan bahwa gairah hidupnya kembali
setelah dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Dr Tan.

Dulu ‘kapal keruk’

Dokter Tan mengaku kesadaran akan pentingnya hidup sehat, tumbuh sejak lim tahun terakhir ini. “Sedari kecil saya
*doyan *makan. Kalau sedang ada perayaan *Cap Go Meh, *Nenek menyediakan berbagai macam makanan enak. Tentu saja saya ‘sikat’ sampai perut saya keras kekenyangan, ” tuturnya.

Kebiasaan makan enak itu terus berlanjut sampai ia bersekolah di Jakarta.”Waktu itu saya indekos di Jalan Raden Saleh. Dalam waktu 3 bulan, berat badan saya bertambah 13 kg,” katanya. Sampai ia berkeluarga, ia belum bisa
mengerem kebiasaannya itu. “Saya sering makan di hotel berbintang lima yang memberi diskon 50% untuk paket makan sepuasnya *(all you can eat) *Saya pikir, kapan lagi bisa makan enak dengan harga murah? Di sana saya bisa *ngopi *dan makan sepuasnya,” tutur Dr Tan mengenang kebiasaannya ketika ia berusia 60 tahun.

Bukan Dr Tan namanya jika berbicara tanpa data. Dari lacinya, ia menge­luarkan selembar foto diri saat bobotnya 80 kg. Penampilannya sama sekali berbeda dengan sosok yang berada di depan saya!

Namun setelah itu badannya mulai terasa tidak nyaman. Pada waktu berjalan, misalnya, dadanya terasa sesak. “Padahal saya rajin mengukur tekanan darah, dan hasilnya normal, 120/80,” katanya.

Pada satu kesempatan berkunjung ke Australia menengok seorang anaknya yang bersekolah di sana, ia mendatangi seorang dokter. Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter itu, diketahui tekanan darahnya melesat sampai 180. “Dokter menyuruh saya minum obat. Tetapi saya bilang, *NO!.** *Saya katakan kepadanya, saya akan kembali tiga bulan lagi, dan saya pasti sudah sembuh,” ujarnya.

Pulang dari dokter, ia langsung *ngeloyor *ke toko buku mencari buku kesehatan. “Saya tidak mau sakit, saya ingin panjang umur. Nah, sejak itu saya *gandrung *membaca buku-buku mengenai kesehatan,” katanya.

Sekolah di Internet

Latar belakang pendidikannya sebagai dokter lulusan FKUI tahun 1958 dan spesialis
radiologi sangat mendukung keinginannya untuk menemukan kunci hidup sehat. Penguasaannya terhadap bahasa Inggris, Belanda, dan Mandarin secara aktif memudahkannya membaca dan menyerap ilmu kesehatan dari berbagai sumber.

“Sampai sekarang saya masih belajar dan terus belajar. Sekolah saya Internet. Media *cybernet atau *penjelajahan situs-situs Internet yang dapat dipertanggung­ jawabkan, semakin memperluas wasasan saya,” ujarnya sambil
menyebut situs favoritnya: *www.mercola. com

Hampir setiap hari ia duduk di depan *laptop-nya *dari pukul 23.30 sampai pukul 05.00, mencari berita kesehatan yang aktual. Dengan demikian, ia tidak pernah ketinggalan informasi. Sebelum duduk di depan *laptop, *ia selalu melakukan meditasi terlebih dahulu dengan bantuan CD yang berisi suara gemercik air hujan. “CD tersebut dipakai untuk meningkatkan kemampuan fokus. Sudah setahun lebih saya menggunakan CD untuk meditasi,” ujarnya. *Gadget **IT *milik orang kantoran masa kini adalah mainannya di usia kepala tujuh. la mahir mengoperasikan komputer dengan segala programnya, merekam dengan USB, sms dijawab melalui PDA-nya dengan kecepatan anak muda, mengirim faksimili pun dilakukannya sendiri.

*Ada** apa dengan tomat dan mentimun?*

Hasil bacaan dan penelusuran di alam maya itulah yang menelurkan gaya hidup
dan pola makan yang diterapkannya sekarang.

“Unsur genetika spesies manusia yang dibawa DNA-nya pada kenyataannya tidak
pernah berubah sejak zaman purba hingga kini; bahkan di masa mendatang,”
katanya. Yang berbeda adalah yang ada di sekeliling kita, sebagai hasil dari
kecerdasan manusia dan olah teknologi. Ini yang mempengaruhi cara hidup
manusia dan cara mengelola hidup termasuk makanannya, serta bagaimana tubuh
bereaksi terhadap apa yang dikonsumsi.

Gen (pembawa sifat keturunan yang terdapat pada inti sel) adalah
rangkaian gugusan
DNA yang tidak mungkin mengalami perubahan dalam waktu singkat. Perubahan
pada struktur gen membutuhkan waktu ribuan tahun lamanya akibat paparan
(ter-expose) oleh lingkungan yang juga telah berubah dalam kurun waktu
sekian lama.

Banyak bukti antropologis (bukan hanya dari sisi medis) yang menjelaskan
bahwa penyakit yang muncul saat ini adalah sebagai akibat pola makan,
gaya hidup,
dan paparan lingkungan. Yaitu karena manusia sudah jauh melenceng ke luar
dari rel sebagaimana alam.

Hidup di zaman sekarang tidak bisa terlepas dari polusi, dan kepungan
penyakit yang membuat kita mudah sakit. Bagaimana mengantisipasinya? “Pertama
insulin harus dikontrol, dan yang kedua pola makan kita harus mengikuti pola
makan manusia purba. Manusia purba tidak mengenal api, apalagi kompor
dan *microwave.
*Segala sesuatu dikonsumsi secara mentah *(raw) dan *segar *(fresh). *Dengan
asupan serupa ini tidak heran tubuh akan jauh lebih tahan terhadap segala
sesuatu,” tuturnya.

Lalu, untuk apa ada restoran? “Restoran itu suatu kebudayaan *(civilitation)
. *Itu bukan untuk kesehatan kita. Jika untuk kesehatan, kita harus balik ke
DNA kita. Kita hanya makan dedaunan atau sayuran mentah. Tidak ada cara
lain. Kalau tidak demikian, pasien saya pasti gagal semua….,” katanya
dengan lantang.

*Sayur mentah satu baskom*

Dokter Tan, tidak hanya cuap-cuap memberi nasihat kepada pasien-pasiennya agar
mengkonsumsi sayuran mentah untuk mengobati *stroke yang *mereka derita, tetapi
dalam keseharian ia benar-benar mempraktikannya dengan disiplin. “Pukul 6
pagi saya makan buah. Buah yang ada dalam simpanan saya. Kalau ada apel ya
itu saja yang dimakan, tapi bukan buah manis tinggi fruktosa seperti pepaya,
pisang atau mangga ranum,” katanya.

Menurutnya, dari tengah malam sampai jam 12.00 terjadi siklus
pembuangan, sebaiknya
perut tidak diisi dengan makanan berat. “Siang hari saya makan sayur mentah.
Banyaknya satu baskom (mangkuk besar) yang ditambah jahe, kunyit,
masing-masing ukuran satu jari, dan satu siung bawang putih. Semua bahan itu
dimasukkan ke dalam *juice-extractor- *bukan blender atau *juicer
*biasa. *juice
extractor *ini mempunyai putaran mesin hanya 30 rpm sehingga tidak menimbulkan
panas di atas 30 derajat Celsius, dan ekstraksi mineral terjamin sempurna.
Selain itu saya juga makan satu kuning telur mentah organik yang jelas bebas
bakteri,” katanya. Siang itu sayur yang memenuhi baskomnya terdiri dari
brokoli, selada, paprika kuning, tomat, dan mentimun yang dipotong-potong. la
adalah pelaku *raw-food *yang setia dan me­ngerti betul dasar latar belakang
mengapa makanan yang disantap harus *raw *alias men­tah. Bahan makanan dari
tanaman yang me­mungkinkan dimakan mentah dan enzim (katepsin) yang
terkandung dalam sayuran mentah itulah yang menghancurkan diri sendiri *(self
destruct) *agar komponennya dapat dise­rap pencernaan kita sebagai sumber
gizi. Sedangkan sayuran lain yang biasanya perlu dimasak (misalkan kangkung,
bayam, kailan, caisim, diambil ekstraknya melalui *juice extractor.*

Makan sayur mentah saja, apakah tidak lapar? “Tentu saja tidak, karena
komposisi sayuran saya bermacam-macam, kondisi ini *menjamin” plant-based
food” *tetap prima sebagai sumber kalori dan energi. Masih di­tambah bawang
bombai, aneka *sprouts *(se­jenis taoge). Kalau masih lapar saya
*menggado *tomat
dan mentimun,” katanya.

*Masih makan kedondong*

Dengan berbagai pengetahuan yang dimilikinya kini Dr Tan sangat hati-hati
mengkonsumsi makanan maupun minuman. la tidak lagi minum kopi kendati dulu
disukainya. “Kalau orang setua saya minum kopi sekali, berarti
terbentuk kortisol
dalam waktu 24 jam. Kortisol akan bertumpuk jika kita terus mengkonsumsi
kopi. Jika sudah demikian, segala macam penyakit akan datang. Misalnya, kita
jadi pikun,” katanya.

Air putih adalah minuman terbaik, karena dapat menggelontor lemak-lemak
tubuh. Seberapa banyak kita minum air putih per hari? “Ukurannya yaitu
sampai urine kita tidak berwarna. Urine yang sehat adalah yang bening
seperti air ledeng, tidak boleh berwarna,” katanya.

la juga mengingatkan bahwa kita harus waspada terhadap bahaya gula.

“Batasi makanan yang mengandung gula seperti beras, terigu, kentang,
umbi-umbian, serta wortel (yang dimasak sebagai sup atau dijus). Wortel yang
dijus akan menjadi air gula. Artinya kalau kita minum jus wortel sama dengan
kita minum air gula. Segala buah yang manis juga mengandung gula. Pemanis
dalam bentuk artifisial, seperti aspartam, sakarin, lebih berbahaya daripada
gula,” katanya.

Jika demikian, buah apa yang baik? Ditanya demikian ia tersenyum. “Buah yang
baik adalah alpukat dan kedondong. Gigi saya sudah habis. Agar saya bisa
makan sayur mentah, kedondong, mangga muda, dan pepaya muda, semua gigi sudah
diganti dengan teknologi *implant. *Bukan karena keropos, tapi kebanyakan
karena kecelakaan di masa lalu, zaman masih menunggang *scooter. *Oh ya,
mangga muda, pepaya muda (bukan yang sudah ranum dengan tinggi kadar
fruktosanya) baik dimakan,” sambungnya.

*Menularkan pola hidup sehat*

Dengan mengubah pola makannya, Dr Tan merasa badannya nyaman dan lebih
energik. Bobot tubuhnya pun proporsional dengan tingginya. la berhasil
menurunkan berat badannya 21 kg dari berat semula 80 kg. Bukan hanya itu,
daya ingatnya pun semakin tajam. “Waktu kuliah dulu, kalau ada teman
yang menyebut
suatu masalah, saya langsung ingat masalah itu dibahas di buku apa, halaman
berapa. Nah, di usia saya sekarang ini, daya ingat saya kembali seperti itu.

Temuan-temuan ini ditularkan kepada pasien-pasiennya.

“Mereka saya anjurkan makan tomat dan mentimun. Saya perhatikan, hanya dalam
waktu tiga hari atau seminggu, kondisi kesehatan mereka mengalami kemajuan.
Mengapa? Karena sayuran mentah adalah makanan yang sesuai dengan DNA kita,”
katanya.

Kepada pasien-pasiennya, Dr Tan tidak pernah memberi obat-obatan
kimia. Bilamana
perlu ia hanya memberikan satu suntikan untuk memperlebar pembuluh darah.
“Pembuluh darah pasien *stroke *sering bermasalah,” demikian alasannya. Di
samping itu, ia juga mengaplikasikan teknik meridian melalui
titik-titik akupuntur.
Ilmu tersebut dipelajarinya antara lain dari sebuah buku keluaran *Bayer *dan
banyak buku asli tentang meridian dan akupuntur dari bahasa dan sumber
aslinya yaitu bahasa Mandarin. Bahasa itu justru baru dikenalnya sebagai
orang Tionghoa ketika Jepang masuk dan bahasa Belanda dilarang.

*Tidak merepotkan orang lain*

Sekarang ini Dr Tan masih sering ke hotel bintang lima untuk makan, tapi ia
lebih cerdik. “Saya pilih *light lunch, *ya murah, ya sehat. Saya bisa makan
*salad *sesuka saya,” katanya.

la sangat yakin, apabila setiap orang mau menjaga diri dan merawat diri, ia
akan mendapatkan kesehatan yang prima, yang memperpanjang usia hidup aktif.
“Dampaknya tentu sangat positif, yang jelas kita tidak merepotkan diri sendiri
di usia lanjut dan tidak tergantung pada pasangan, anak-anak, atau
orang-orang di sekitar kita. Saya mempunyai tujuan mempertahankan hidup yang
berkualitas demi kemanusiaan dengan mempraktikkan kejujuran serta
kebenaran untuk
tujuan tersebut,” tuturnya.

“Sekarang saya punya konklusi yang jelas sekali, yaitu dengan mengikuti DNA
- hanya makan sayur, selanjutnya dikombinasi dengan *quantum touch- *pasti
akan sehat seumur hidup.”

Bagaimana dengan bermacam-macam diet yang digembar-gemborkan sekarang ini?
“Omong kosong! *Ndak bisa** *itu! Pokoknya paling baik hanya mengkonsumsi
sayuran mentah. Yang lain *dilupain aja, deh,” *ujarnya. Ekstrim? Tentu begitu
kesan pertamanya. Tapi bagaimanapun, komitmen dan disiplinnya untuk sehat
sangat mengagumkan. *(N)*

sumber Emma Madjid.  Hudup sehat alami. Majalah Nirmala, April-2007

VN:F [1.9.3_1094]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.3_1094]
Rating: +2 (from 2 votes)
Hidup sehat alami gaya Dr. Tan Tjiauw Liat, 10.0 out of 10 based on 2 ratings



Artikel Sejenis

8 Comments »

  1. avatar comment-top

    Salam sehat >>> info2nya sangat bermanfaat >>> tukeran link boleh?

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    comment-bottom
  2. avatar comment-top

    klo mau menjalani semua hal diatas perlu kemauan keras, bayangkan aja, cuma makan sayur2an, mentah lagi.

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    comment-bottom
  3. avatar comment-top

    dokter tidak friendly

    masa pasien tunggu lagi ujan disuru pulang..

    dokter yang aneh

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 1 Thumb down 0

    comment-bottom
  4. avatar comment-top

    Wah wah berat banget kalo buat aku seperti itu

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    comment-bottom
  5. avatar comment-top

    [...] sana-sini, akhirnya nemu tulisan diet sehat ala dr Tan, dengan cara memakan makanan sesuai DNA asli kita alias makan makanan/sayuran mentah aja. Tapi ya [...]

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    comment-bottom
  6. avatar
    Dessy Yoediartiny Says:
    June 9th, 2010 at 9:12 am
    comment-top

    Saya (38 tahun) sudah mencoba metoda ini selama kurang lebih 2 bulan… Saya sempat ikut briefing & konsul kesehatan dengan anaknya; Dr. Tan Shot Yen (di BSD). Awal2nya terasa berat. Lemas, ngantuk, nggak enerjik. Tapi lama kelamaan plus ditunjang suplemen Salmon Fish Oil, Vitamin C buffer (tidak menyebabkan iritasi lambung0 dan Vitamin E, badan semakin terasa enak…

    Dulu, setiap bangun tidur, badan rasanya pegal, seperti habis dipukul2.. Tapi sekarang tidak lagi.

    Saya bertekad menjalani program ini lewat informasi seorang teman kantor, yang iparnya ‘terselamatkan’ dengan ini dari operasi bypass jantung seharga 85 juta. Hanya dengan menekuni pola makan yang dianjurkan selama 5 minggu…!!!

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 2 Thumb down 0

    comment-bottom
  7. avatar comment-top

    Di artikel tsb dikatakan buah yg baik adalah alpukat & kedondong. Kondisi buat tsb matang/yg mentah? Lalu buah tsb dimakan begitu saja? Terima kasih.

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    comment-bottom
  8. avatar comment-top

    @Dessy Yoediartiny

    Mantap sharingnya, semoga dapat diikuti oleh teman-teman lain yang membeutuhkan

    Setuju atau Tidak Setuju: Thumb up 0 Thumb down 0

    comment-bottom

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL




Leave a comment

Connect with Facebook

Improve the web with Nofollow Reciprocity.